Mon. Aug 8th, 2022

Perlawanan menjadi satu kesatuan dalam laku hidupnya. Dengan perawakan kecil dan kurus, Ia lantang menyuarakan hak-hak orang terpinggirkan seperti buruh pabrik dan petani.

Ya, namanya Wiji Thukul seorang penyair kelahiran Solo pada 26 Agustus 1963. Latar belakang kehidupan yang tak berkecukupan membuatnya tajam melihat keadaan sosial.

Melalui puisi Wiji Thukul mampu mengajak para buruh pabrik dan petani melawan ketidakadilan. Kata-kata yang lahir dari ucapanya seakan mampu menembus tembok-tembok kekuasaan.

Tak cukup waktu lama pemerintah orde baru menandai kalau penyair bernama Wiji Thukul sebagai orang yang berbahaya. Selain pandai dalam melontarkan kritik melalui puisi, ternyata Wiji thukul juga seorang agitator yang ulung.  

Berkat gerakanya ratusan buruh Pabrik PT Sri rejeki melakukan demontrasi dan mogok kerja. Para buruh menuntun adanya kenaikan upah layak dan pengurangan jam kerja.

Ada beberapa contoh puisi Wiji Thukul yang mampu mengerakan dan menyadarkan orang yang membacanya. Pertama, puisi berjudul Peringatan. Kedua, puisi berjudul Puisi untuk adik. Cuplikan puisinya seperti di bawah ini:

Puisi Peringatan

apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

Puisi Untuk Adik

Apakah nasib kita akan terus seperti

Sepeda rongsokan karatan itu?

O… tidak, dik!

Kita akan terus melawan

Waktu yang bijak bestari

Kan sudah mengajari kita

Bagaimana menghadapi derita

Kitalah yang akan memberi senyum

Kepada masa depan

Jangan menyerahkan diri kepada ketakutan

 

Membaca potongan dua puisi di atas, sedikit banyak sudah mengambarkan betapa dalamnya kata-kata yang keluar dari puisi Wiji Thukul. Perjuangan seolah menjadi kayu bakar dirinya menjalani hidup.

Aktivis pro demokrasi ini tak pernah lelah berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Sampai pada akhirnya di dekat stasiun kereta api Pasar Senin nasib berkata lain, Wiji Thukul hilang di telan ganasnya orde baru. Kini karyanya menjadi saksi bisu tentang perjuangannya yang tak kenal takut dan tak pernah berhentti