Wed. Nov 30th, 2022

PESANTREN yang berdiri di Sukorejo ini, pada awalnya adalah sebuah hutan lebat. Setelah mendapat saran dari Habib Musawa dan Kiai Asadullah dari Semarang, Kiai As’ad Syamsul Arifin sebagai pendiri pondok, segera membabat hutan lebat tersebut sekitar tahun 1908 untuk mendirikan pesantren. Dipilihnya hutan yang banyak dihuni binatang buas tersebut, berdasarkan hasil istikharah. Kini pesantren tersebut telah menjadi ikon pembangunan bagi masyarakat sekitarnya. Sosoknya tidak seperti “menara gading”, tetapi justru terbuka dan menyatu dengan masyarakat sekitarnya. Tak heran, kalau masyarakat Situbondo merasakan manfaat atas kehadiran pondok pesantren ini.

Area ponpes ini sangat luas dan benar-benar memanfaatkan potensi para penduduk sekitar. Sebelum masuk ke area ponpes terdapat SPBU dibahu jalan, SPBU tersebut milik ponpes untuk pemberdayaan penduduk. Masuk ke kompleks ponpes sekitar 2-3 km dari jalan besar, banyak berderet toko-toko milik warga dari mulai toko baju, kitab, rental komputer, warnet, tempat makan, warung-warung, mini market, ATM center, dsb. Banyak santri yang berlalu lalang memakai sarung dan peci, dan seluruh wanita menggunkan jilbab. Ada satu kendaraan khas di area ponpes yaitu Bentor (Becak Motor). Karena jarak dari jalan besar ke dalam ponpes cukup jauh ± 3 km.

Di Area Pondok Pesantren juga terdapat Makam Pahlawan Nasional Kiai As’ad Syamsul Arifin, beliau selain pendiri pondok juga turut berjuang membela tanah air, peziarah dari berbagai kota di nusantara sering melakukan ziarah ke makam tersebut untuk mengenang jasa beliau yang berjuang untuk Indonesia dan Dunia dari Situbondo. Pondok Pesantren Salafiyah Safiiyah Sukorejo menjadi Wisata Budaya berbasis religi yang akan menambah experience bagi traveler

Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah

PESANTREN yang berdiri di Sukorejo ini, pada awalnya adalah sebuah hutan lebat. Setelah mendapat saran dari Habib Musawa dan Kiai Asadullah dari Semarang, Kiai As’ad Syamsul Arifin sebagai pendiri pondok, segera membabat hutan lebat tersebut sekitar tahun 1908 untuk mendirikan pesantren. Dipilihnya hutan yang banyak dihuni binatang buas tersebut, berdasarkan hasil istikharah. Kini pesantren tersebut telah menjadi ikon pembangunan bagi masyarakat sekitarnya. Sosoknya tidak seperti “menara gading”, tetapi justru terbuka dan menyatu dengan masyarakat sekitarnya. Tak heran, kalau masyarakat Situbondo merasakan manfaat atas kehadiran pondok pesantren ini.

Area ponpes ini sangat luas dan benar-benar memanfaatkan potensi para penduduk sekitar. Sebelum masuk ke area ponpes terdapat SPBU dibahu jalan, SPBU tersebut milik ponpes untuk pemberdayaan penduduk. Masuk ke kompleks ponpes sekitar 2-3 km dari jalan besar, banyak berderet toko-toko milik warga dari mulai toko baju, kitab, rental komputer, warnet, tempat makan, warung-warung, mini market, ATM center, dsb. Banyak santri yang berlalu lalang memakai sarung dan peci, dan seluruh wanita menggunkan jilbab. Ada satu kendaraan khas di area ponpes yaitu Bentor (Becak Motor). Karena jarak dari jalan besar ke dalam ponpes cukup jauh ± 3 km.

Di Area Pondok Pesantren juga terdapat Makam Pahlawan Nasional Kiai As’ad Syamsul Arifin, beliau selain pendiri pondok juga turut berjuang membela tanah air, peziarah dari berbagai kota di nusantara sering melakukan ziarah ke makam tersebut untuk mengenang jasa beliau yang berjuang untuk Indonesia dan Dunia dari Situbondo. Pondok Pesantren Salafiyah Safiiyah Sukorejo menjadi Wisata Budaya berbasis religi yang akan menambah experience bagi traveler