Mon. Aug 8th, 2022

Fokus dalam mencetak generasi-generasi Qur’ani, Sebelum melanjutkan artikel Kisah Pengalaman Selama Hidup Di Pondok Pesantren, Sekedar kami info:

Apabila Anda Mendambakan putra/putri untuk menjadi Tahfidz kunjungi website Pondok Pesantren Tahfidz

Dengar suatu kata Pondok Pesantren barangkali beberapa orang bakalan langsung terasa gatal-gatal sembari menggenggam perutnya. Kebanyakan ponpes terus persis dengan lingkungan yang kurang bersih, maka muncul gatal-gatal serta di Pesantren mesti hidup berduka dengan semua keterbatasan-keterbatasan.

Sesungguhnya gak begitu pun kok. Terdapat beberapa ponpes kekinian yang sampai makin nyaman ketimbang rumah sendiri. Umpama Pondok Pesantren besar: Gontor, Tebuireng, Langitan,Suci, serta sebagian contoh yang lain.

Akan tetapi, dari semuanya itu gak seluruh orang dapat mondok di sejumlah tempat itu. Maka pemecahannya sejumlah ada yang memutuskan pesantren yang wajar saja. Atau yang gak sangat mewahlah.

Umpama pesantren yang ada pada pinggir kota atau yang diketahui dengan tempat terplosok-plosok, kebanyakan pesantren itu ringan disandingkan di wilayah perkampungan. Akan tetapi tidak masalah, kan hasil pengetahuan yang bakalan diperoleh pun sama dengan gak ada bedanyalah. Hehehehe!!! Iyakan.

Banyak peristiwa-kisah kehidupan di Pesantren dimulai dengan perihal yang sangat menggembirakan sampai perihal yang sangat mengiris hati dan perihal yang sangat malas. Nach, apa? Coba, yang pasti donk!!! Buat kalian yang sempat pernah Mondok yang pasti tahu itu?

Barangkali beberapa dari kalian pernah rasakan sejumlah hal itu. Ditambah lagi buat kalian yang dahulunya pernah juga Mondok.

Walau begitu terasa pusing dan sebagainya, akan tetapi buat Anak Pondok gak bikin persoalan atau berkecil hati ditambah lagi hingga patah semanagat. Ya, nggaklah anak pondok kok putus harapan.

Buat Anak Pondok walaupun hafalan itu membuat pusing, depresi, sampai-sampai ada rasa malas-malas dan sebagainya, saya meyakini jelas dapat melaluhinya. Realitanya banyak yang menghatamkan sesui tujuan yang di pastikan, walaupun sejumlah ada yang belum dapat menghatamkanya.

Walaupun sejumlah belum dapat menghatamkanya, akan tetapi mereka tidak mengetahui kata berserah. Oleh dikarenakan tersebut mereka selalu bertarung serta selalu usaha buat menghatamkanya, sampai terdapat beberapa kok, yang sampai direlaiin gak tidur bermalaman, cuma buat menghatamkan Hafalan yang udah dicanangkan.

Atas semuanya perjuangan serta keistiqomahannya, selanjutnya semuanya anak pondok bisa mengakhiri tujuannyakan walaupun mesti butuh waktu yang sedikit lama. Nach, itu ia, perjuangan anak-anak pondok sewaktu itu sama sepertiku. Walaupun mulanya dahulu begitu sukar akan tetapi selanjutnya dapat.

Barangkali beberapa dari kalian, saya meyakini pernah memperlajarinya terkait isi pada kitab kuning ini. Yang didalamnya bermacam ragam pengetahuan serta narasi banyak Kawan akrab-sahabat Nabi Saw, terkait pun nama kitab serta cerita siapa? Kerana kitab kuning itu terdapat beberapa sampai-sampai beberapa ribu serta tiap-tiap kitab pun lain isi atau pengkajianya.

Sebelumnya memperlajari isi serta pengertian dari Kitab-kitab Kuning itu. Kebanyakan anak pondok diperintah belajar dahulu sejumlah dasar buat mengerti isi pada kitab kuning itu. Yang pasti beberapa dari kalian jelas tahu? Apa, itu Kitab Jurumiah, Impriti, niat, Kunci Nahwu, serta Nahwu Sorof.

Buat banyak santri mesti hukumnya terutama yang pengin mempelajari atau pengin mengerti isi-isi dari kitab kuning itu.

Nach, buat belajar yang satu berikut, gak ringan sampai lebih sukar ketimbang mengingat Al-Qur’an. Barangkali beberapa dari kalian udah paham lah mengapa saya berani mengucapkan perihal itu. Sebab dahulu saya sendiri pernah menjalaninya tingkat kesukaranya.

Barangkali menurut kalian sejumlah jelas ada yang katakan acara makan-makan itu gak “Waow ” Saya meyakini ada yang katakan “Iya” Betulkan, atau menurut kalian wajar saja. Akan tetapi, buat banyak Santri acara makan-makan itu yaitu Surganya banyak santri, Mengapa? “Iya donk” kan Santri itu jarang-jarang makan. Hehehehehe

Tak boleh terkejut apabila kalian pernah masuk di pesantren, selalu ketepatan kalian tonton banyak santri di rebutan makanan, saya meyakini jelas beberapa dari kalian pernah tonton hal semacam itu. Ditambah lagi buat kalian yang sempat pernah Nyantri pun, jelas tahukan.

Nach, kembali dari pengkajian awalan. Barangkali buat banyak santri makanan bagai surganya, sementara itu uang yaitu cuma rupiah yang gak sangat diprioritaskan, Berarti di pada dunia pesantren itu, dunia tidaklah maksud inti, akan tetapi Akhiratlah sebagai maksud terutamanya.

Di dunia gak perlulah banyak duwit yang perlu hidup cukup serta dapat kecukupan buat seluruhnya. Lain jauhi dari kehidupan luar, barangkali bila buat kehidupan luar Uang yaitu seluruhnya sementara itu makanan itu yang Nomor Dua “Iyakan” Nach, untuk kalian yang tahu atau sisa Satri jadi mujurkanlah. Hehehehe…

Nach, buat yang satu berikut, barangkali beberapa dari kalian terpenting yang dahulu pernah hidup di pesantren, jelas kalian sempat mendapat takziran atau hukuman, terpenting yang super nakal. Di pesantren jelas yang bernama takziran itu tentu ada, bagaimana tak. Coba asumsikan apabila takziran atau hukuman pondok tak ada, yang pasti donk. Santri-santri bakalan sekehendak hatinya sendiri, selalu apa yang terjadi kelak.

Nach, oleh dikarenakan tersebut takziran atau hukuman di pondok amatlah berlaku ditambah lagi buat yang super nakal. Jelas banyak terima hukuman, akan tetapi dibalik itu yang pasti besok kelak dapat menjadi suatu bahan penceritahan serta cinderamata.

Coba, asumsikan apabila sekali mengenai persoalan atau masalah. Jelas beberapa dari kalian telah pernah ngerasahin bagaiman rasanya disiram bersama air kotoran selokan. Walaupun sebenarnya air itu sisa mandi serta sisa kencingan anak-anak pesantren.

Asumsikan saja air yang coklat, pundak gak enak alias super pundak, sekiranya terserang kulit begitu terasa gatal. Tersebut takziran atau hukuman di pondok yang berlangsung, barangkali itu gak berat seperti lari-lari. Akan tetapi itu amatlah memuakkan “iya” kan. Bila saya andaikata bisa ditawar mendingan lari-lari 10x keliling lapangan tidak masalah seandainya gak disiram bersama air kotoran yang rasanya super pundak serta super gatel.

Akan tetapi sebutnya di pesantren gak ada kata tawar menawar. Hukuman itu, iya “itu” sebab itu telah jadi undang-undang yang berlangsung dalam pesantren serta siapapun yang menyalahi aturan di pesantren persiapan mengenai hukuman itu. Ehhh… namun juga lihat-lihat kekeliruanya dahulu. Apabila tidaklah terlalu berat ya tidak mungkin disiram bersama air itu. Paling ya diperintah berdiri di depan gedung pesantren sembari menjewer kuping.

Setip dihari liburan ialah hari Jum’at, di mana banyak santri banyak habiskan waktu dengan melaksanakan kompetisi bola antara Pondok Pesantren. Menang-kalah kepentingan belakang yang terutama berani maju.
Tak mengetahui waktu main terdapatnya main serta main. Tersebut permainan banyak santri, maju terus tak mengetahui kata letih, main bebas masuk-keluar tidak ada wasit dan sebagainya.

By nasya