Mon. Jan 17th, 2022

Sebelum lanjutkan artikel Jika Belum Akikah hingga Sudah Dewasa? Begini Penjelasannya, Sekedar kami info:

Jika anda berminat mencari Jasa Aqiqah Terpercaya dan Profesional dengan harga murah kunjungi website Jasa Aqiqah Jabodetabek

Akikah adalah satu diantaranya sunah Rasulullah saw maka dari itu kita jadi umatnya mesti usaha hidupkan apa yang diberikan penutup banyak Nabi itu.

Akikah secara bahasa merupakan rambut yang tumbuh di kepala bayi yang baru lahir. Sedang menurut arti akikah merupakan tuntunan Rasulullah saw untuk menyembelihkan hewan (kambing) buat keperluan bayi yang baru lahir, yaitu dicukur rambutnya dan disebut.

Pada suatu histori dikatakan dari Samuroh bin Jundub, Rasulullah saw bersabda, “Tiap-tiap anak tergadaikan dengan akikahnya, disembelihkan untuk dirinya di hari ke tujuh, dicukur rambutnya, dan disebut.” (HR. Abu Dawud)

Menurut banyak ulama, arti dari tergadaikan dalam hadis di atas merupakan jika tidak dijalankan akikah untuk sang bayi, karenanya pembelaan pada orang tuanya kedepannya dalam hari kiamat dapat terhenti.

Bukan sekedar itu, Ibnu Qayyim menambah jika akikah berfungsi untuk melepas bujukan setan dari bayi yang baru lahir ke dunia. Menurut hadis di atas juga, jumhur ulama setuju jika akikah baiknya dijalankan di hari ke-7  sehabis bayi dilahirkan.

Walau demikian, acapkali kita temui di tengahnya orang jika banyak anak yang masih belum diakikahkan meski sebenarnya umurnya udah dewasa. Bagaimana hukumnya?

Banyak ulama beberapa mazhab punyai penglihatan yang tidak sama dalam memandang kejadian yang begitu.

Pertama, mazhab Maliki beranggapan jika akikah jadi tumbang kalau lolos dari hari ke-7  kelahiran sang bayi.

Ke-2 , menurut mazhab Hambali, kalau lolos dari hari ke-7  kelahiran karenanya bisa dijalankan di hari ke 14 atau ke 21 mulai sejak bayi dilahirkan.

Ke-3 , mazhab Syafi’i beranggapan jika bahwa akikah tetap menjadi tanggung-jawab orang-tua utamanya si ayah sampai sang anak sudah baligh. Bila sudah dewasa, akikah jadi tumbang akan tetapi sang anak bisa untuk mengakikahi diri pribadi.

Untuk masukan mazhab Syafi’i itu, diterangkan oleh Imam Nawawi Banten dalam kitabnya Tausyih Versi Fathil Qaribil Mujib.

Beliau bercakap, “Semisalkan sang bayi meninggal dunia sebelumnya hari ke-7 , karenanya kesunahan akikah tidak tumbang. Kesunahan akikah tidak juga lolos lantaran terlambat sampai hari ke-7  berakhir. Kalaupun pendabihan akikah dipending sampai sang anak baligh (dewasa), karenanya hukum sunahnya tumbang untuk sang orang-tua.

Maknanya orang-tua tidak kembali disunahkan mengakikahkan anaknya yang udah baligh lantaran tanggung-jawab akikah orang-tua udah terputus lantaran kemandirian sang anak. Sementara agama berikan opsi terhadap satu orang yang udah balih untuk mengakikahkan dianya atau mungkin tidak. Akan tetapi sebaiknya, dia selalu mengakikahkan dianya untuk susul sunah akikah yang lolos di saat dia masih kecil.”

Ulama lain menjelaskan juga realisasi akikah ini bergantung pada kebolehan ke-2  orang-tua.

Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin bercakap, “Hukum akikah merupakan sunah muakad (sunah yang sangatlah direkomendasi). Akikah untuk anak lelaki dengan 2 ekor kambing, sedang untuk anak wanita dengan satu ekor kambing.

Akan tetapi, kalau mencukupkan diri dengan satu ekor kambing untuk anak lelaki, hal demikian pula diijinkan. Panduan akikah ini untuk beberapa umumnya jadi tanggung-jawab si ayah lantaran beliaulah yang memikul nafkah anak.

Kalau di saat waktu direkomendasinya akikah (hari ke-7  kelahiran), orang-tua pada kondisi sukar/tidak bisa, karenanya dia tidak diminta untuk akikah lantaran Allah ta’ala berfirman yang maknanya, “Bertakwalah terhadap Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16).

Tapi kalau di saat waktu direkomendasinya akikah orang-tua pada kondisi berkecukupan, karenanya akikah tetap masih jadi tanggungan untuk si ayah, bukan ibu manalagi anaknya.” (Liqaatul Babul Maftuh, Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin).

Info Lainnya kunjungi jasa layanan aqiqah terpercaya dan profesional

By nasya