Fri. Sep 30th, 2022

JAKARTA – Pasar modal Indonesia raih 45 tahun, Bursa Dampak Indonesia (BEI) sukses jadi bursa dengan resiliensi yang tinggi daripada bursa lainnya di Asia. S/d 8 Agustus 2022, IHSG alami kenaikan sejumlah 7,68% pada tingkat 7.086,849 dibanding dengan akhir 2021.

 

Kegiatan perdagangan di Bursa selalu terlindungi yang tercermin dari rerata nilai transaksi bisnis harian (RNTH) sampai awalnya Agustus sudah capai Rp 15,4 triliun, dan rerata volume transaksi bisnis setiap hari sudah capai 23,4 miliar saham. Disamping itu, frekwensi transaksi bisnis harian sudah capai 1,tiga juta kali atau bertambah sebesar lebih dari 6,2% dibanding tahun awalnya.

 

Advertisement Dari segi pendataan dampak s/d 8 Agustus 2022, BEI sukses mencatatkan 38 pendataan dampak saham, enam obligasi baru, dan satu Exchange-Traded Fund (ETF) baru selama setahun 2022. Adapun disaksikan dari perform segi suplai s/d akhir Juni 2022, BEI mencatat perkembangan jumlah perusahaan terdaftar paling tinggi dalam 5 tahun akhir antara bursa-bursa ASEAN yang lain. Tidak itu saja, BEI sudah melebihi jumlah 800 perusahaan terdaftar saham yang disebut perolehan hebat untuk pasar modal Indonesia.

 

Meskipun begitu, beberapa aktor pasar modal paparkan jika ada banyak tugas rumah (PR) yang perlu dituntaskan BEI. Dimulai dari variasi produk, kualitas emiten terdaftar sampai pembelajaran pasar modal dan jumlah investor terdaftar.

 

Pemerhati pasar modal Guru Besar Keuangan dan Pasar Modal Fakultas Ekonomi dan Usaha (FEB) UI Budi Frensidy menjelaskan, dari sisi jumlah IPO BEI salah satunya yang terbaik di Asia Tenggara. Akan tetapi, produk yang ditawari oleh bursa kurang bervariatif, banyak beberapa produk yang masih juga dalam wawasan, seumpama Pilihan Exchange dan beberapa produk lainnya yang relatif tidak berkembang dalam tahun-tahun ini. Bahkan juga, jika dibanding dengan beberapa produk dari bursa regional, produk pasar modal Indonesia masih ketinggal.

 

“Disamping itu, kewenangan bursa sebaiknya lebih selective saat menentukan beberapa perusahaan yang lebih berkualitas untuk terdaftar sahamnya di BEI. Ini lebih bagus, daripada beberapa perusahaan kecil yang di saat IPO jadi gelaran,” bebernya, Rabu (10/8/2022).

 

Budi menyebutkan, ada banyak karena kenapa produk turunan dapat sepi pecinta. Pertama, dari sisi suplai, di mana tidak ada pasar maker atau liquidity provider. Lantas dari sisi permintaan menurun karena pengetahuan investor terbatas pada saham biasa, waran, dan rights issue saja. “Hingga misalnya dijajakan produk seperti kontrak pilihan saham atau pilihan exchange itu kurang daya magnetnya hingga ya pasar tidak likuid, walau sebenarnya produk semacam itu baik untuk hedging atau tingkatkan penghasilan,” katanya.

 

Jalan keluarnya, lanjut Budi, ialah pembelajaran yang dalam masalah pasar modal dan financial product yang penting dipertingkat lebih dalam kembali. Dia memberikan contoh pada beberapa negara maju pembelajaran masalah financial product telah masuk ke kurikulum pengajaran.

 

Secara terpisah, Team Penelitian NH Korindo Sekuritas menerangkan, literatur menyinggung keuangan nasional masih lumayan rendah di kelompok masyarakat Indonesia. Terutamanya pengetahuan berkenaan produk produk di bagian pasar modal. “Literatur yang belum rata ke semua warga Indonesia, mengakibatkan mereka lebih sukai memperoleh referensi-rekomendasi saham dari orang yang tidak mempunyai kapabel di bagian itu dibanding coba pahami atau pelajari pengetahuan investasi sendiri,” terangnya.

 

NH Korindo Sekuritas mengharap kewenangan pasar modal bisa sediakan pembelajaran yang dewasa dan khusus lebih dalam kembali mengenai sangkut-paut investasi di pasar modal, baik pada beberapa karyawan, sekuritas anggota bursa, atau ke beberapa nasabahnya. “Hingga nantinya tidak ada korban yang terjebak uangnya oleh beberapa ‘influencer’ yang tidak bertanggungjawab,” katanya.

 

Selanjutnya, Riset Fixed Penghasilan Pefindo Ahmad Nasrudin menjelaskan, ada PR yang belum dituntaskan. yaitu berkaitan dengan pengokohan pangkalan investor lokal. BEI perlu tingkatkan keterlibatan investor lokal jadi lebih besar kembali. Hingga, saat terjadi guncangan external di mana arus keluar modal asing, pangkalan investor lokal menjadi penyangga. Hal tersebut, bisa dilaksanakan dengan kenaikan keterlibatan retail. Kenaikan instrument untuk investor retail jadi penting di depan di tengah-tengah akses yang makin gampang sekarang ini.

 

“Kita saksikan, kita saat ini bisa secara mudah beli instrument seperti obligasi pemerintahan lewat handphone kita. Nantinya, kita menginginkan keterlibatan itu akan makin bertambah,” terang Ahmad.

 

Dalam pada itu, Riset Kanaka Hita Solvera Daniel Agustinus memiliki pendapat, kurangnya waran bukan jadi argumen dari dana keluar atau outflow dari asing tetapi karena factor esensial global di mana ada peningkatan suku bunga hingga mereka mengalihkan ke asset yang semakin aman. “Tapi menyaksikan performa emiten kwartal dua yang berkilau dan esensial Indonesia yang kompak di Indonesia, dana asing terlihat mulai kembali di beberapa saham pendorong index kembali,” jelasnya.

 

Dia mengharap, OJK dan bursa diharap sanggup mengaplikasikan tata urus yang bagus, tingkatkan peraturan dalam soal usaha pelindungan customer dan tingkatkan literatur dan inklusi keuangan yang berada di Indonesia.